Photography, Just do it!

Posted: April 8, 2011 in Uncategorized
Tags: ,

“Fotografi adalah memikirkan setiap komponen yang akan masuk ke dalam sebidang scene.” Seorang kawan berpesan kepada saya sebelum beliau berangkat ke sisi selatan Bukit Barisan dengan sepeda. Saya setuju, tetapi saya mau menambahkan bahwa kalimat tersebut adalah hiponim dari kalimat “fotografi adalah seni.” Seni yang maknanya adalah kita menganggapnya sebuah refleksi dan apresiasi kita terhadap bagian kehidupan. Oleh karena itu saya sangat mendukung pernyataan para ahli yang menyatakan bahwa seni mutlak relatif.

Labuhan Haji, Lombok Timur

Suatu hari saya sedang melakukan fun travelling ke Green Canyon bersama beberapa kawan. Saat itu saya baru saja membeli sebuah kamera. Dan kebetulan kamera saya adalah satu-satunya kamera yang memadai untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Saat itulah saya sadar bahwa untuk menjadi seorang fotografer saya harus memiliki gelar SF (sarjana fotografi) sehingga orang tidak berani lagi mengatur kita ketika sedang memotret. Ketika saya mengambil gambar untuk sebuah peristiwa yang menurut saya bagus, mereka selalu berkomentar. Saat itulah saya mogok melakukan kegiatan memotret dan untuk mencairkan suasana saya memilh hanya mengambil video perjalanan kami.

Anda yang pernah merasakan belajar mengendarai sepeda hingga naik tingkat ke sepeda motor, maka Anda akan merasakan yang namanya tahapan belajar. Kita masih dimanja dengan sepeda roda empat, tiga, hingga harus jatuh bangun ketika mulai menggunakan sepeda roda dua. Setelah khatam mengendarai sepeda beberpa tahun kemudian kita mulai belajar mengendarai sepeda motor. Relevansi mengendarai sepeda dan sepeda motor hanya sebatas filosofinya, yaitu keseimbangan menggunakan dua roda, mengendalikannya dengan setang, dan mengatur kecepatan. Selanjutnya, ketika sudah bertahun-tahun akrab dengan sepeda motor maka seringkali instinct kita lebih berperan daripada kesadaran utama. Pernah merasakan mengendarai sepeda motor sambil pikiran berkelana dari Arktik hingga Johannesburg? Anda tetap selamat sampai tujuan meskipun tidak konsentrasi penuh. Instinct!

Rumusannya sebagai berikut:

  1. Awal membeli kamera, saya ingin menumbuhkan instinct fotografi saya. Tanpa peduli bagus atau jelek menurut penilaian orang lain. Tetapi dalam tahap itu, jika saya terlalu ditekan maka lebih baik saya berhenti memotret hingga orang-orang yang banyak komentar itu pergi atau diam.
  2. Teori fotografi sangat tidak bisa dikesampingkan. Saya memperoleh warisan dari ibu sebuah buku berjudul “Petunjuk untuk Memotret” yang dicetak pada 1977. Paling tidak saya memelajari sedikit teori dan ketika telah memunyai sebuah kamera, saya mempraktekkannya sambil terus mempelajari teori tambahan. Dalam dunia akademik teori adalah rumusan dari hasil penelitian atau kejadian yang berulang-ulang dan mendekati konsistensi.
  3. Saya cukup senang mengamati, memberikan apresiai, bahkan menilai sebuah foto meskipun sama sekali tidak kompeten melakukannya. Tapi dari hal inilah saya membekali diri dengan referensi, serta semangat yang dapat saya gambarkan sebagai berikut: untuk membuat foto ini gampang kok, hanya perlu timing dan memikirkan apa saja yang akan masuk ke dalam sebidang potert saya, dan lakukan!
  4. Dan fotografi adalah seni! Jadi dengan kamera jelek pun kita sudah melakukan berkesenian karena memang seni tidak memunyai tolak ukur. Jika seseorang berkata bahwa hasil foto kita jelek, maka tegaskan ke dia bahwa itu adalah refleksi dari peristiwa yang kita jumpai, kamera yang kita bawa, dan kemampuan fotografi kita. Ya memang seperti itu seni.
  5. Bahwa fotografi adalah kompleks. Rumusnya adalah imjainasi+wawasan. Kembali ke definisi kawan saya tadi, ketika memikirkan komponen dalam sebuah foto maka yang berperan adalah imajinasi+wawasan. Dan instinct adalah semacam bahan bakar dan katalis yang akan berpengaruh terhadap hasil akhir.
  6. Fotografi tidak terbatas pada ruang dan waktu serta menjadi bagian hidup Anda. Seorang kawan pernah berkata, “foto kamu bagus karena memang tempatnya bagus.” Ingin rasanya saya copot otaknya kemudian memberikan resep berikut: saya memperjuangkan hidup saya untuk mendatangi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Saya ingin keliling dunia dan membuat lebih banyak foto. Ketika saya sedang berjuang untuk pergi ke suatu tempat, maka hal itu adalah beberapa persen awal dari kegiatan fotografi. Bandingkan dengan dirimu yang “begitu-begitu” saja, cita-cita dan mimpimu rendah, bagaimana mau melakukan hidup dengan nada lebih tinggi?
  7. Terlepas dari seni, saya tidak memungkiri ada bidang tertentu sebagai “fotografi” yang sering diindentikkan sebagai ilmu fotografi. Tidak ada salahnya terjun ke dunia ini karena memang tidak semua orang memunyai kemampuan sama. Lakukan penilaian terhadap diri sendiri.
  8. Lakukan!
-Hz-
email: hamzah.maulana@avalon-trek.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s