Menjadi tamu di negeri Sendiri (Gili Trawangan) – publishing in progress

Posted: April 10, 2011 in Uncategorized
Tags: , , , , , , , , , ,

Keluarga ini mempunyai stigma unik: jangan ke Gili Trawangan, nanti perahunya terbalik seperti kejadian tempo hari (yang faktanya pun tidak mereka ketahui dengan pasti).

… Bukti kesekian kita menjadi tamu di negeri sendiri adalah buku. manusia-manusia itu rela terbang belasan jam ke tempat ini hanya untuk bersantai menikmati indahnya pantai sambil membaca buku. Padahal hingga detik ini, buku masih asing bagi masyarakat kita.

Menjadi tamu di negeri Sendiri

Dua kali aku berkunjung ke Lombok. Dua kali pula aku gagal menyebrang ke Gili Trawangan meskipun sudah berada di Lombok. Itulah point pertama dari menjadi tamu di negeri sendiri:

1.       Keluarga ini mempunya stigma unik: jangan ke Gili Trawangan, nanti perahunya terbalik seperti kejadian tempo hari (yang faktanya pun tidak mereka ketahui dengan pasti).

Mohon maaf kepada keluarga Atiyya di Selong Lombok. Tetapi kenyatannya hal itulah yang membuatnya tidak pernah ke Gili Trawangan seumur hidupnya hingga hari itu, ketika aku membawanya menyebrang ke pulau tersebut dengan perahu murahan. Kejadian serupa juga terjadi pada Kute yang berada di Lombok sebelah selatan. Terlalu jauh, bahaya, dan berbagai alasan lain yang diutarakan para “orag tua” di keluarga besar tersebut. Kalau tidak karena paksaan hebat, bisa jadi ia pun tak pernah menginjakkan kaki di pantai Kute yang indah dengan pasir seukuran merica. Sepertinya indahnya pantai Lombok bukan hal yang penting. Atau jika terpaksa dianggap penting, ia pun hanya perlu dinikmati seperlunya. Aku belum pernah bisa paham dengan pola pikir seperti itu.

Pagi itu aku harus ke bengkel untuk mengganti oli. Motor milik Nabilla ini memang bernasib buruk: berbulan-bulan olinya tidak diganti. Kami tidak berpamitan kepada “orang rumah” jika kami akan ke Gili Trawangan. Hal itu bisa menjadi masalah besar dan peluang untuk gagal terlaksana bernilai 1 (dalam ilmu probability, sebuah peluang dinyatakan dalam range 0-1, dan nilai 1 berarti absolute, mutlak, pasti―dengan asumsi Tuhan tidak ikut campur).

Pagi itu pun kamu mulai dengan berpamitan seolah-olah hanya pergi jalan-jalan―yang didesain agar ‘orang rumah’ mengasumsikan ‘paling jauh ke Mataram’.  Skenario tersebut berjalan mulus. Usai ganti oli, aku langsung menggeber motor―yang seolah baru saja memuaskan dahaganya dengan oli baru―ke arah Mataram.

Cidomo adalah musuh utama di jalan utama Pulau Lombok. Jalan sempit, hanya dua jalur dua lajur, terasa sangat sesak jika kita harus bertarung di jalanan tersebut dengan cidomo. Bagi yang belum terbiasa melewati jalanan tersebut, jangan menggunakan kecepatan tinggi jika konsentrasi tidak maksimal.

Kurang lebih satu jam kami mulai memasuki Kota Mataram. Malam sebelumnya, aku mencoba mempelajari dengan seksama rute jalan di Pulau Lombok. Pintu penyebrangan ke tiga gili adalah Pemenang-Bangsal. Untuk mencapai Pemenang, dari kota Mataram terdapat dua jalur yaitu jalur pantai dengan menyusuri Pantai dari Senggigi hingga Pemenang atau memotong perbukitan melalui Pusuk. Untuk berangkat aku lebih menyukai lewat jalur pantai, anggaplah sebagai pemanasan dengan menyegarkan mata dengan pantai. Selain itu aku memang belum pernah lewat Loyok. Secara umum jika ditarik garis lurus, jalur Pusuk lebih sedikit pendek. Tetapi dengan medan yang berbukit asumsinya waktu perjalanan hampir sama.

Kami menyusuri jalan Udayana, Ampenan, hingga kemudian mulai memasuki jalan Raya Senggigi. Angin pantai mulai terasa. Di sebelah kiri jalan sesekali nampak birunya laut. Berbagai resort dan hotel menjadi pemandangan utama hingga memasuki perbatasan Kota Mataram-Kabupaten Lombok Barat. Setelah itu topografi jalan mulai fluktuatif dan menyajikan suasana sempurna: sebelah kiri pantai dan sebelah barat bukit yang terlihat cukup segar.

Kami melewati puncak keramaian dan keindahan Senggigi dengan acuh. Selain karena sudah beberapa kukunjungi, kami punya target lebih menarik: Gili Trawangan!

Setelah melewati Senggigi, suasana di sisi jalan mulai sepi. Taka lama kemudian jalanan mulai menanjak dan di puncak tanjakan tersebut tersaji  sudut pandang yang sangat indah. Aku memutuskan untuk berhenti dan berfoto sejenak. Aku muali sadar bahwa kami berhenti di Malimbu: bukit yang terkenal di utara Senggigi dengan sebagai view point yang sangat indah.

Sebenarnya kata Malimbu merujuk pada Malibu di USA. Tetapi kata Malibu agak janggal bagi lidah Indonesia sehingga di adaptasi sebagai Malimbu. Paling tidak keduanya memilik karakteristik sama.

Te show must go on.. aku harus bisa ke Gili Trawangan kemudian kembali lagi langsung tancap gas untuk mengejar target sampai di Selong sebelum maghrib. Kami memutuskan langsung melanjutkan  perjalanan setelah mengambil beberapa foto di Malimbu.

Kondisi jalan setelah itu cukup tidak menyenngkan. Sedang ada renovasi pada jalur itu. Mungkin tujuannya uadalah untuk memebrika akses yanglebih baik bagi pariwisata di Lombok bagian barat. Pada beberpa titik lapis perkerasan aspal di jalan sama sekali tidak ada dan kami harus melewati jalanan tanah berbatu serta berbaur dengan alat berat seperti bulldozer. Perjalanan ke tempat yang indah memang akan terasa sedikit lebih seru jika diselingi hambatan seperti itu.

Kami terus berjalana dengan panti yang menjadi pemandangan udatam di sebelah kiri. Tiga pulau kecil perlahan-lahan mulai terlihat semakin jelas. Yang ada di pikiranku aadalah aku akan menuju ke titik terdekat untk meyebrang ke pulau tersebut: Pemenang. Jika kita melihat peta Lombok, Pemenang memang merupakan sebuah semenanjung kecil di ujung barat Pulau Lombok.

Ketika tiga gili terasa semakin dekat, beberapa kapal berukuran kecil. Itulah penyebrangan yang lebih eksklusif untuk sampai ke tiga gili. Tarifnya adalah tarif sewa kapal yang harganya paling murah tiga ratus ribu rupih. Berbeda dengan penyebrangan regular di Pemenang yang dikelola oleh ASDP. Setiap penumpang dikenankan tiket sebesar sepuluh sampai lima belas ribu rupiah.

Sesuai dengan petunjuk di peta, terdapat perempatan yang merupakan titik untuk berbelok ke kiri ke arah penyebrangan Pemenang, dan arah kanan adalah jalur ke Mataram melewat Pusuk. Tanpa pikir panjang aku yakin itulah jalan ke Pemenang dan langsung berbelok kea rah kiri. Sekitar 500 meter kemudian sampailah kamu di pelabuhan Pemenang.

Aku langsung memarkir motor di rumah penduduk yang memang digunakan sebagai bisnis parkir kendaraan  bagi pengunjung tiga gili. Tariff parkir sepeda lima ribu rupiah/hari dan sepertinya jika menginap tarifnya akan berbeda. Setelah itu kamu langsung membeli tiket. Ke gili trawangan tiketnya seharga sepuluh ribu rupiah. Cukup murah uhtuk destinasi seindah Gili Trawangan.

Siang nitu penumpang cukup ramai. Sebagian adalah wisatawan asing. Aku cukup kagum kepada mereka yang seringkali sangat efisien dalam budget perjalan terbukti dengan memilih trasportasi yang paling murah. Mereka mau menggunakan perhau motor yang seringkali terbalik karena gelombang laut daripada harus menyewa boat yang tentu saja menguras budget. Dengan cara seperti itu, beberapa turis dari luar negeri mampu mengarungi dunia untuk melihat seberapa indah dunia. Tetu saja dengan menekankan efisiensin budget.

Penampilan wisatawan asing dan wisatawan domestik hari itu pun cukup jelas berbeda. Dari cara berpakaian, wisatawan asing selalu proporsional. Untuk cara pantai mereka umumnya hanya memakai  celana pendek dan kaos tipis dengan warna cerah. Sedangkan wisatwan domestik seringkali terlihat salah kostum. Mereka banyak yang memekai celana panjang yang tentu saja bagian bawahnya akan basah ketika harus menginjakkan kaki di air. Selain itu beberapa orang justru memakai jaket. Entah maksudnya karena kedinginan  atau agar kulitnya tidak kepanasan: takut terbakar.

2.       Kita adalah tamu di negeri sendiri. Para wisatawan asing begitu bisa menkmati suasana. Berbeda dengan wisatawan domestik, yang anehnya tak sedikit yang memakai pakaian untuk “kondangan” ketika menyebrang ke Gili Trawangan.

3.       Bahkan dalam hal efisensi budget, wisatawan asing seringkali menang telak dibanding wisatawan dometik. Aku terus memeperhatikan sepasang wisatawan asing dengan carrier yang pada kantong-kantong luarnya terselip berbagai barang seperti sepatu hingga matras. Di Kute atau seringklai kujumpai wisatawan asing tidur di losmen murahan. Tujuannya adalah untuk meminimalisir budget sehingga durasi liburan lebih lama. Dan kini bukti kesekian tersaji: mereka memilih menggunakan perahu murahan!

Untuk mengganjal perut yang mulai terasa lapar, aku membeli nasi bungkus seharga Rp3000,- sambil menunggu perahu yang tak kunjung berangkat. Sambil makan aku melihat beberapa orang menaikkan material konstruksi seperti semen dan gypsum ke atas perahu. Oh Tuhan…  rupanya perahu yang akan aku naiki juga menjadi kargo konstruksi. Entah apakah mereka memperhitungakn SWL (Safe Work Load) perahu tersebut atau tidak. Tetapi dari pengamatanku perahu tersebut Nampak keberatan, membawa beban berat, dan beberapa centimeter lebih tenggelam daripada dalam kondisi kosong. Sedikit banyak mulai timbul pembenaran para orang tua: Ke Gili Trawangan (dengan perahu murahan) berbahaya, perahu sering terbailk.

Seringkali para pemilik penginapan di Gili Trawangan ketika akan merenovasi/membangun tempat usahanya, menitipkan material konstruksi pada perhau murahan ini. Menyewa boat atau sekedar perahu khusus terlalu berat bagi mereka jika tidak bisa disebut pemborosan. Rupanya aku salah. Masyarakat lokal justru ungul dalam hal efisiensi budget disbanding wisatawan domestik. Tentu saja keunggulan tersebut diiringi dengan mengabaikan keselamatan.

Usai santap siangdadakan di dermaga, tibalah saatnya untuk naik ke perahu. Jumlah penumpang mungkin hanya sekitar ¾ dari kapasitas tempat duduk. Tetapi beban di bagian tengah perahu cukup mengganggu. Tapi birunya air, hijaunya Pulau Lombok dengan jjaran bukit, dan menggodanya Tiga Gili yang tampak jelas membuatku lupa dengan carut marutnya kondisi perahu. Perahu mulai berjalan seiring dengan meingkatnya perasaan akibat indahnya alam.Teriknya cahaya matahari seolah menjadi hal yang harus diabaikan.

Di sebelahku sekelompok anak muda sedang bercanda sambil menikmati camilan yang mereka bawa sendiri―karena tentu saja perahu murahan ini tidak menyediakan fasilitas snack. Kudengar salah satu dari mereka adalah blesteran Lombok-Australian. Ayahnya adalah seorang wisatawan dari Australia yang sejak tahun 80-an jatuh cinta dengan tanah air dan manusia Lombok. Cerita seperti itu tidak jarang terdengar di Lombok atau Bali. Wisata adalah sumber devisa nyata bagi dua provinsi tersebut yang bahkan telah melahirkan banyak cerita keluarga blesteran. (to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s